perempuan yang berkarya

beautiful mind like yourself

Jumat, 08 Januari 2010

Jualan Perempuan



Suka nonton take me out Indonesia? atau suka nonton Suami-Suami Takut Istri? Beberapa dari sejumlah besar tayangan televisi yang menempatkan perempuan sebagai peran sentralnya. Tayangan-tayangan tersebut menampilkan perempuan-perempuan dari sudut pandang pasar, dilihat dari sisi industry dan yang diminati pasar. Lihat saja acara take me out, perempuan-perempuan cantik diposisikan sebagai sesosok yang akan mendapatkan jodoh. Perempuan-perempuan tersebut disuruh berdiri di sebuah stadium. Tidakkah kalian teringat akan barang yang dipajang di etalase toko, yang siap menarik hati setiap pengunjung toko. Ironis sekali bukan. \
Kalau kita perhatikan tayangan-tayangan di televise, kebanyakan menyudutkan perempuan. Sosok perempuan di televisi dicerminkan sebagai sosok yang cantik dengan kulit putih mulus, pakaian bagus, dan dandanan yang seronok. Sosok inilah yang nantinya akan mendapat tempat di hati para laki-laki yang melihat. Benarkah perempuan di masyarakat kita seperti yang dicitrakan televise?
Mari kita lihat sejenak perempuan-perempuan di sekitar kita. Ibu, saudari , teman perempuan atau pacar kita. Perempuan-perempuan yang kita kenal pastinya perempuan-perempuan istimewa yang jauh dari apa yang dicitrakan televisi. Bukankah mereka yang ditampilkan ditelevisi hanya sebagian kecil dari perempuan-perempuan yang kita kenal? Atau begitukah cara industry televise “menjual” perempuan?
Citra apapun yang melekat pada perempuan pasti telah melalui campur tangan budaya patriarki, dimana perempuan menjadi pihak yang kedua dalam masyarakat. Kemudian industry televise sebagai juragan kedua setelah budaya patriarki membuat image baru yang lebih bombastis daripada apa yang telah dicitrakan budaya patriarki, selanjutnya dijual sehingga perempuan masuk dalam kesadaran palsu bahwa mereka bersikap seperti yang ditawarkan televise.
Kasihan sekali perempuan! So, masih mau diam melihat perempuan di jual di televise?

She : "May I say I love U?"

Orang inggris bilang, “I love you”, orang Indonesia bilang,” aku cinta padamu”, jawa bilang “aku tresno karo kowe”, orang batak bilang, “holong rohaku tu ho”… semua kalimat itu memiliki arti yang sama, menyatakan perasaan sayang dan cinta. Lalu apa yang salah dengan semua itu? Tidak ada. Cuma saja, saya bertanya-tanya kenapa pernyataan cinta akan lebih keren terdengar kalau laki-laki yang mengatakannya. Bukan hendak menomorduakan perempuan. Tetapi budaya Timur memang memandang aneh apabila perempuan yang menyatakan cinta terlebih dahulu.
Zaman baru bung! Bukan zaman Siti Nurbaya yang mengekang perempuan untuk tinggal diam. Perempuan pun boleh menyatakan cinta kepada orang yang disukainya. Ironisnya budaya mempersulitnya. Kenapa? Karena sejak dahulu kala, perempuan timur dididik untuk menunggu dan mengamati tanda-tanda yang diberikan oleh laki-laki bahwa ia juga suka kepada perempuan itu. Padahal tahu gak? Belum tentu kan semua laki-laki memiliki keberanian yang besar untuk mengatakan cintanya. Yang ada, bisa aja dia hanya memberi tanda-tanda yang tidak jelas, atau tidak menyatakan sama sekali dan akhirnya mengatakan “cinta tak harus memiliki” hah…apa itu? Masih mau kalah ama budaya? Perempuan punya kekuatan yang aneh dan ajaib karena itu kita istimewa dan ditakuti laki-laki.
Jadi, intinya ayo perempuan-perempuan, perjuangkan cintamu! Hidup hanya sekali, sayang sekali kalau hanya dilewatkan dengan penyesalan. Tapi jangan sampai ada hati yang terluka ya.. good luck, girl

Kamis, 07 Januari 2010

Virginitas dilelang?





Setiap hal memiliki dua sisi, positif dan negative. Sama halnya dengan teknologi ada sisi positif dan negatifnya. Internet, teknologi yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga memudahkan manusia untuk memperoleh informasi dan berbagai macam hiburan. Banyak sekali keuntungan yang kita dapatkan ketika menggunakan internet untuk hal yang baik dan benar. Kali ini Saya akan ajak anda untuk melihat sebuah sisi kelam penggunaan internet.
Keperawanan. Satu kata ini, cukup untuk membuat perdebatan sengit diantara banyak orang. Ada yang beranggapan keperawanan merupakan hal yang sangat penting namun tidak sedikit yang menganggapnya tidak begitu penting. Sayangnya, ada masa dimana perempuan memilih untuk menanggalkan dan menjual keperawanannya. Klise, alasan ekonomi. Internet menjadi sarana untuk mempromosikan diri. Kenapa internet? Karena lebih aman dan efektif untuk promosi. Cukup heran dan terkejut? Jangan dulu.. Indonesia tercinta yang memegang nilai-nilai luhur budaya Timur ternyata juga terkena virus ini. Gadis-gadis belia Indonesia juga telah berani melelang keperawanannya. Berbagai alasan mereka kemukakan, yang berujung pada masalah ekonomi. Nah..sekarang baru boleh terkejut!!
Lelang keperawanan ini, termasuk dalam cyber crime, masuk dalam kategori prostitusi terselubung dan dapat dikenakan sanksi. Di sinilah letak kebusukan internet yang begitu dipuja-puji seluruh penduduk bumi. Segala hal yang dianggap tabu menjadi layak dan normal, mirip tayangan infotainment.
So, bijaklah menanggapi hal baru.

Jodoh, di Pasar Jodoh



Anda kesulitan menemukan pasangan hidup? Atau patah hati karena ditinggal oleh tunangan? Bagaimana kalau saya tawarkan pasangan kepada anda? Jauh-jauh saya akan datangkan pasangan anda dari Bulgaria. Heran?? Ya saya pun begitu.
Calon pengantin dapat di beli di pasar. Demikian kalimat pembuka pada satu artikel di majalah ternama. Pertama kali membaca artikel tersebut saya berdecak kagum.. ck..ck.. kok bisa ya? Adalah Stara Zagora, kota yang masih menjalankan tradisi masyarakat Gypsy untuk menawarkan anak gadis di pasar jodoh. Perayaan unik ini dirayakan tiap tahun pada pertengahan maret. Mau tahu motivasi diadakannya pasar jodoh ini? Tak lain dan tak bukan tentu saja mas kawin. Lagi-lagi karena masalah ekonomi. Masyarakat gypsy di Bulgaria memang hidup miskin karena masyarakat lain memandang mereka sebagai suku yang tidak berharga.
Pasar jodoh di Stara Zagora akan diisi oleh gadis dengan riasan wajah dan bedak tebal, tertawa genit dan bermain mata kepada pria muda berpakaian rapi. Orang tua bertindak sebagai pengamat. Jika ada yang saling suka, mereka akan berkencan. Bila sudah merasa cocok, pihak laki-laki akan melakukan pendekatan dengan orang tua gadis tersebut, dan membawa mas kawin kisarannya 15-40 juta rupiah.
Wah…wah.. ironis sekali ya. Perempuan layaknya barang komoditi di pasar. Tidak ubahnya seperti sayur atau buah-buahan. Sesuatu yang menarik namun sulit masuk ke dalam akal pikiran kita. Lagi-lagi ada kambing hitamnya. Pendidikan dan ekonomi. Keduanya menjadi momok untuk menjalankan tradisi yang terbilang aneh dan rasis. Lalu siapa yang sebenarnya patut dihukum dan dipersalahkan atas budaya “unik” ini? Kalau menurut pendapat dirinya saya, yang pertama kali dipersalahkan adalah orang yang tidak mampu memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak bagi mereka (kaum gypsy) dan kemudian baru salahkan kaum gypsy yang “terpaksa” menjalankan budaya tersebut.
Sekali lagi, perempuan menjadi korban untuk suatu kondisi. Bagaimana masih tertarik mendapat jodoh dari Bulgaria?

Poliandri, Eksistensi Perempuan?


Poligami. Kata yang mengandung kontroversi. Lalu bagaimana kalau disandingkan dengan kata poliandri. Lebih kontroversi lagi. Kenapa? Apakah karena pelakunya? Atau tatanan masyarakat yang membuatnya lebih polemic. Jika dibandingkan keduanya sama-sama memiliki arti yang sama, memiliki pasangan lebih dari satu orang. ;tetapi yang berbeda dari keduanya adalah kalau poligami diperkenankan walaupun banyak kontroversinya, poliandri lebih parah lagi, dilarang secara hukum dan lebih banyak lagi kontroversinya.
Saya itu mempertanyakan, mungkinkah karena pelakunya. Kalau poligami dilakukan oleh laki-laki, poliandri dilakukan oleh perempuan. Sebagaimana kita ketahui, perempuan di masyarakat belum mendapat tempat yang setara dengan laki-laki. Mau contohnya? Lihatlah bagaimana perempuan ditempatkan dalam masyarakat. Sebagai ibu rumah tangga yang baik, lebih lemah dibandingkan pria, di fungsikan sebagai pihak kedua.
Lalu bagaimana kalau perempuan mengambil alih apa yang dianggap laki-laki sebagai wujud keperkasaannya? Poliandri. Walaupun saya tidak tertarik dengan poliandri dan poligami, namun yang menarik ketika perempuan menunjukkan eksistensinya dengan berpoliandri.
Saya mengambil contoh di India. Ternyata ada perempuan yang melakukan poliandri. Tersebutlah Himachal  Pradesh, India, dimana poliandri berlaku. Himpitan ekonomi dan minimnya pengetahuan menjadi penyebab berlakunya tradisi poliandri di wilayah ini. Indira Devi merupakan salah satu penganut poliandri. Ia memiliki dua suami yaitu Amar dan Kundan. Apabila kita lihat dari satu sisi, indira dapat menunjukkan eksistensinya dengan memiliki dua orang suami dan ia memiliki kuasa atas kedua suaminya. Namun dilihat dari sisi yang lain, ia sekali lagi tertipu oleh budaya sebagai agen ketidaksetaraan gender karena ia ditempatkan pada posisi sebagai objek kedua suaminya, karena ia dianggap sebagai barang atau wujud kekayaan.
Hal yang menarik untuk dipertanyakan, benarkah poliandri merupakan bentuk eksistensi perempuan? Kalau mau jujur benarkah perempuan ingin berpoliandri?
Kenapa poliandri sedemikian kontroversi jika dibandingkan dengan poligami? Benarkah budaya sekali lagi menang sebagai agen ketidaksetaraan gender?
Perempuan, sosok special dengan segala keistimewaannya juga ingin menunjukkan keberadaannya. Sayang ia harus dikalahkan oleh keadaan, budaya dan lingkungan.