Suka nonton take me out Indonesia? atau suka nonton Suami-Suami Takut Istri? Beberapa dari sejumlah besar tayangan televisi yang menempatkan perempuan sebagai peran sentralnya. Tayangan-tayangan tersebut menampilkan perempuan-perempuan dari sudut pandang pasar, dilihat dari sisi industry dan yang diminati pasar. Lihat saja acara take me out, perempuan-perempuan cantik diposisikan sebagai sesosok yang akan mendapatkan jodoh. Perempuan-perempuan tersebut disuruh berdiri di sebuah stadium. Tidakkah kalian teringat akan barang yang dipajang di etalase toko, yang siap menarik hati setiap pengunjung toko. Ironis sekali bukan. \
Kalau kita perhatikan tayangan-tayangan di televise, kebanyakan menyudutkan perempuan. Sosok perempuan di televisi dicerminkan sebagai sosok yang cantik dengan kulit putih mulus, pakaian bagus, dan dandanan yang seronok. Sosok inilah yang nantinya akan mendapat tempat di hati para laki-laki yang melihat. Benarkah perempuan di masyarakat kita seperti yang dicitrakan televise?
Mari kita lihat sejenak perempuan-perempuan di sekitar kita. Ibu, saudari , teman perempuan atau pacar kita. Perempuan-perempuan yang kita kenal pastinya perempuan-perempuan istimewa yang jauh dari apa yang dicitrakan televisi. Bukankah mereka yang ditampilkan ditelevisi hanya sebagian kecil dari perempuan-perempuan yang kita kenal? Atau begitukah cara industry televise “menjual” perempuan?
Citra apapun yang melekat pada perempuan pasti telah melalui campur tangan budaya patriarki, dimana perempuan menjadi pihak yang kedua dalam masyarakat. Kemudian industry televise sebagai juragan kedua setelah budaya patriarki membuat image baru yang lebih bombastis daripada apa yang telah dicitrakan budaya patriarki, selanjutnya dijual sehingga perempuan masuk dalam kesadaran palsu bahwa mereka bersikap seperti yang ditawarkan televise.
Kasihan sekali perempuan! So, masih mau diam melihat perempuan di jual di televise?