Poligami. Kata yang mengandung kontroversi. Lalu bagaimana kalau disandingkan dengan kata poliandri. Lebih kontroversi lagi. Kenapa? Apakah karena pelakunya? Atau tatanan masyarakat yang membuatnya lebih polemic. Jika dibandingkan keduanya sama-sama memiliki arti yang sama, memiliki pasangan lebih dari satu orang. ;tetapi yang berbeda dari keduanya adalah kalau poligami diperkenankan walaupun banyak kontroversinya, poliandri lebih parah lagi, dilarang secara hukum dan lebih banyak lagi kontroversinya.
Saya itu mempertanyakan, mungkinkah karena pelakunya. Kalau poligami dilakukan oleh laki-laki, poliandri dilakukan oleh perempuan. Sebagaimana kita ketahui, perempuan di masyarakat belum mendapat tempat yang setara dengan laki-laki. Mau contohnya? Lihatlah bagaimana perempuan ditempatkan dalam masyarakat. Sebagai ibu rumah tangga yang baik, lebih lemah dibandingkan pria, di fungsikan sebagai pihak kedua.
Lalu bagaimana kalau perempuan mengambil alih apa yang dianggap laki-laki sebagai wujud keperkasaannya? Poliandri. Walaupun saya tidak tertarik dengan poliandri dan poligami, namun yang menarik ketika perempuan menunjukkan eksistensinya dengan berpoliandri.
Saya mengambil contoh di India. Ternyata ada perempuan yang melakukan poliandri. Tersebutlah Himachal Pradesh, India, dimana poliandri berlaku. Himpitan ekonomi dan minimnya pengetahuan menjadi penyebab berlakunya tradisi poliandri di wilayah ini. Indira Devi merupakan salah satu penganut poliandri. Ia memiliki dua suami yaitu Amar dan Kundan. Apabila kita lihat dari satu sisi, indira dapat menunjukkan eksistensinya dengan memiliki dua orang suami dan ia memiliki kuasa atas kedua suaminya. Namun dilihat dari sisi yang lain, ia sekali lagi tertipu oleh budaya sebagai agen ketidaksetaraan gender karena ia ditempatkan pada posisi sebagai objek kedua suaminya, karena ia dianggap sebagai barang atau wujud kekayaan.
Hal yang menarik untuk dipertanyakan, benarkah poliandri merupakan bentuk eksistensi perempuan? Kalau mau jujur benarkah perempuan ingin berpoliandri?
Kenapa poliandri sedemikian kontroversi jika dibandingkan dengan poligami? Benarkah budaya sekali lagi menang sebagai agen ketidaksetaraan gender?
Perempuan, sosok special dengan segala keistimewaannya juga ingin menunjukkan keberadaannya. Sayang ia harus dikalahkan oleh keadaan, budaya dan lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar